Loading...

Wednesday, December 16, 2009

BATIK: Nelson Mandela dan Presiden Soeharto Populerkan Indonesian Batik


Soeharto Pemantik Batik oleh Iwan Satyanegara Kamah.

Jauh sebelum Nelson Mandela mempopulerkan batik di dunia internasional, Presiden Soeharto sudah melakukannya, hanya intensitasnya berbeda. Soeharto memantik dari dalam Indonesia, dan Mandela mengobarkannya di luar Indonesia.


Memang agak aneh, mengapa Presiden Soekarno yang dikenal sangat membakar semangat agar selalu berpijak pada identitas diri bangsa, tidak pernah terlihat memakai baju batik. Sulit sekali menemukan gambar atau foto visual Soekarno sedang memakai batik pada sebuah kesempatan acara apapun. Padahal dia pernah mengobarkan sebuah manifesto yang terkenal, MANIPOL USDEK. MANIPOL itu singkatan dari Manifestasi Politik. Sedangkan USDEK bila dijabarkan menjadi Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Terpimpin, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia. Tapi, orang awam yang sulit mengerti sering mencibir Manipol Usdek itu, dengan menyebutnya manipol (manifold) knalpot.

Batik pada masa pemerintahan Soekarno belum populer sampai pada tingkatan acara kenegaraan. Jarang pada acara-acara resmi ada orang berpakaian batik di pusat kekuasaan. Kebanyakan pakai jas model barat. Untungnya kualitas lingkungan hidup pada masa Soekarno masih agak bagus, jadi iklim masih rendah belum ada global warming. Wah, kebayang waktu sekarang saat matahari sedang hot-hot-nya di atas ubun-ubun tepat khatulistiwa, kita pakai jas lengkap siang hari. Hmm..badan bisa jadi seperti ketupat hasil rebusan air yang panas, dengan peluh berlinang sekujur tubuh. Bedanya rasanya kalau memakai batik, yang sangat praktis, sangat Indonesia dan sesuai dengan iklim tropis kita.

Presiden Soeharto pun tak pernah dan belum menjadi trendsetter pemakai batik pada sepuluh tahun pertama kekuasaannya. Malah dia sering terlihat mengenakan pakaian adat Jawa. Barulah pada pertangahan tahun 1980an, Soeharto mulai berani memakai batik pada acara kenegaraan resmi, saat menjamu kedatangan Perdana Menteri Australia Gough Whitlam di Jogjakarta tahun 1974. Ketika itu Ibu Tien Soeharto membuatkan khusus baju batik kepada sahabat suaminya itu. “Eksklusif!”, kata pembantu Ibu Tien yang mengawasi pembuatan batik itu.

Kok khusus? Ya gimana nggak, tubuh Whitlam yang setinggi 2,4 meter itu yang sebesar anak gajah, memang memerlukan kain yang banyak. Yang satu tangan panjang dipakai Whitlam saat mengunjungi Candi Borobudur, dan satu lagi lengan pendek ketika mau meninggalkan Jogjakarta untuk pulang. Yang lengan panjang butuh kain 5 meter, sedangkan lengan pendek 3,5 meter. Wah, bisa buat bikin tenda warung bubur kacang ijo dan ketan item kain sebanyak itu.

Pada waktu kedatangan Presiden AS Ronald Reagan dan Nancy di Bali bulan April 1986, Soeharto kembali memperkenalkan batik kepada dunia, ketika dia memberikannya kepada pemimpin adi daya itu untuk memakainya bersama istrinya. Kunjungan Reagan di Bali itu banyak diliput dunia dengan pengawalan ekstra ketat, karena tiga minggu sebelumnya Reagan sukses membom Libya tapi gagal membunuh pemimpinnya. Inilah kunjungan seorang presiden AS terlama ke luar negeri. Reagan datang hari Selasa malam 29 April dan baru berangkat Jumat siang 2 Mei 1986.

Sebelumnya Soeharto hanya memberi cinderamata batik kepada tamu negara yang datang ke Indonesia, seperti yang dipersembahkan, misalnya kepada Perdana Menteri Kanada Pierre Elliot Trudeau. Bahkan Perdana Menteri Australia Paul Keating sering datang ke sini dan memakai batik saat mengadakan pembicaraan tak resmi dengan Soeharto. Sejak itu batik mulai naik pamornya di mata dunia, meski hanya diperkenalkan di dalam negeri kepada tamu negara atau tokoh dunia penting yang datang ke Indnonesia. Namun belum sampai pada keberanian Soeharto memakainya saat berkunjungan resmi ke luar negeri, seperti yang dilakukan oleh Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela.

Banyak tokoh dunia mulai saat itu 'dibatiki’ oleh Soeharto. Para astronot Space Shuttle yang meluncurkan satelit Palapa memakainya saat datang ke sini. Hampir semua para pemimpin ASEAN yang bertandang ke sini secara tak resmi, juga “dibatiki” oleh Soeharto, kecuali Presiden Ferdinand Marcos, yang keukeuh memakai pakaian barong, sebagai kebanggaan pakaian nasionalnya. Saya sih, kepengen sekali melihat Yasser Arafat memakai batik, karena dia sering datang ke Indonesia. Namun hal itu sulit terjadi karena Arafat sudah punya trade mark dengan pakaiannya. Apalagi memaksa Paus Johannes Paulus II memakai batik waktu ke sini tahun 1989, sungguh tak masuk akal dan akan menjadi kejadian langka dalam sejarah manusia.

Puncak kepopuleran batik sebagai kebanggaan bangsa Indonesia mencapai puncaknya pada November 1994 di Bogor, Jawa Barat, ketika Soeharto atas bantuan rancangan Iwan Tirta, memaksa 17 kepala negara dan kepala pemerintahan dari kumpulan negara-negara APEC, memakai batik tulis yang khusus di buat dengan corak yang melambang simbol negara masing-masing dengan sentuhan etnis Jawa. Termasuk Presiden AS Bill Clinton. Untuk kedua kalinya presiden AS memakai batik.

Sejak itu, atas jasa dan ide Presiden Soeharto, telah menjadi tradisi di setiap KTT APEC berikutnya semua kepala negara yang hadir akan memakai pakaian nasional tuan rumah saat foto bersama saja, tetapi tidak saat melakukan pembicaraan resmi. Beda dengan batik yang dipakai pada KTT APEC II di Bogor itu, yang dikenakan saat acara serius sekaligus pada acara foto bersama. Kita lihat saja nanti, apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan “membatikkan” kembali para tamu negara yang datang pada saat KTT APEC kembali diadakan di Indonesia beberapa tahun mendekat ini, karena sudah waktunya setelah hampir 20 tahun Indonesia akan mendapat giliran kembali menjadi tuan rumah. Kita lihat bagaimana Presiden Barack Obama akan memakai batik. Presiden George Bush yang menjadi presiden AS pertama yang datang dua kali ke Indonesia, tidak sempat ”dibatikkan” oleh Megawati saat menjadi tuan rumah di Bali tahun 2003, dan juga tak ada waktu “dibatiki” oleh SBY waktu menjamu Bush muda datang ke Bogor tahun 2006. Mungkin karena kunjungan singkat, tak sempat untuk berbatik ria.

Meskipun Soeharto menjadi pencetus membatikkan dunia, namun tetap saja dia belum berani memakainya saat berkunjung resmi ke luar negeri. Keengganan ini dikuti dengan baik oleh para penggantinya. Memang hanya tokoh sekelas dunia seperti Mandela saja yang berani memakai batik pada saat acara apapun di manapun di dunia. Mandela-lah yang menggelorakan batik ke dunia, tetapi Soeharto yang memantiknya pertama kali. Ini yang membuat dunia mengakui bahwa batik Indonesia pantas menjadi warisan dunia. Bukan batik yang lain. (baltyra.com / Foto:www.kaskus.us -portal.volarefm.com)

No comments:

Post a Comment